Klenteng kota Magelang

Jika anda berkunjung ke Magelang, luangkan waktu untuk datang ke sebuah klenteng di jalan Alun-Alun Selatan nomor 2 Magelang. Klenteng Liong Hok Bio.

Patung Pangeran Diponegoro

Di alun-alun Kota Magelang terdapat patung Pangeran Diponegoro sedang berkuda. Saya sudah terkesima dengan patung ini bahkan ketika baru lancar ...

Taman Kyai Langgeng

Berlokasi sekitar 1 kilometer dari pusat kota Magelang, tepatnya ke arah selatan atau sekitar 19 Kilometer dari Candi Borobudur.

Candi Borobudur

Borobudur, Pawon, dan Mendut terbujur dalam satu garis lurus yang menunjukan kesatuan perlambang Terletak sekitar 40 kilometer (25 mil) barat laut dari Kota Yogyakarta,

Taman Badaan

Taman Badaan, begitu masyarakat setempat menyebut taman bermain ini, mempunyai letak yang strategis. Hanya membutuhkan waktu 5 menit perjalanan dari alun-alun Kota Magelang, yaitu di Jalan Pahlawan, Kota Magelang.

mivo.tv

Tampilkan postingan dengan label Tempat Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tempat Wisata. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 September 2012

Taman Badaan

Taman Badaan, begitu masyarakat setempat menyebut taman bermain ini, mempunyai letak yang strategis. Hanya membutuhkan waktu 5 menit perjalanan dari alun-alun Kota Magelang, yaitu di Jalan Pahlawan, Kota Magelang.
Luas taman ini sendiri tidak begitu besar, hanya sekitar 1.000 meter persegi. Namun taman ini mempunyai keunggulan dalam fasilitas permainan yang ada di dalamnya yang sangat beragam. Hal inilah yang membuat taman ini tidak pernah sepi pengunjung.
Disamping itu, area Taman Badaan ini juga dipenuhi dengan jajanan kuliner khas Magelang seperti Gulali, Kacang Godhog, Wedang Rondhe, Bakso Kerikil dll. Keberadaan taman ini juga sangat bermanfaat bagi warga sekitar untuk menghabiskan waktu sore hari atau saat liburan bersama kerabat mereka. Selain itu, tidak sedikit juga warga pendatang yang menjadikan taman ini sebagai tempat peristirahatan perjalanan mereka.
Pemerintah Kota Magelang berhasil menata Taman Badaan yang dahulunya hanyalah taman biasa berisikan beberapa tanaman hias, tempat duduk kayu, beberapa ayunan dan prosotan, patung-patung binatang, dan hamparan rumput jepang. Pemerintahan setempat menambahkan beberapa permainan modern yang menyenangkan seperti becak mini, odong-odong, kereta mini, dan juga lebih menghias taman ini dengan beberapa tanaman hias dan kolam ikan. Sesekali juga ditampilkan atraksi badut dan sulap untuk lebih memanjakan pengunjung taman.
PKL (Pedagang Kaki Lima) di sekitar taman pun tidak luput dari perhatian pemerintahan setempat. Sejumlah pedagang ditata agar dapat mewujudkan suasana yang nyaman.
Taman Badaan ini merupakan langkah pembuka pemerintahan setempat untuk mewujudkan slogan Kota Magelang yaitu ‘Kota Sejuta Bunga’.

Borobudur

Lingkungan sekitar

Borobudur, Pawon, dan Mendut terbujur dalam satu garis lurus yang menunjukan kesatuan perlambang
Terletak sekitar 40 kilometer (25 mil) barat laut dari Kota Yogyakarta, Borobudur terletak di atas bukit pada dataran yang dikeliling dua pasang gunung kembar; Gunung Sundoro-Sumbing di sebelah barat laut dan Merbabu-Merapi di sebelah timur laut, di sebelah utaranya terdapat bukit Tidar, lebih dekat di sebelah selatan terdapat jajaran perbukitan Menoreh, serta candi ini terletak dekat pertemuan dua sungai yaitu Sungai Progo dan Sungai Elo di sebelah timur. Menurut legenda Jawa, daerah yang dikenal sebagai dataran Kedu adalah tempat yang dianggap suci dalam kepercayaan Jawa dan disanjung sebagai 'Taman pulau Jawa' karena keindahan alam dan kesuburan tanahnya.[14]

Tiga candi serangkai

Selain Borobudur, terdapat beberapa candi Buddha dan Hindu di kawasan ini. Pada masa penemuan dan pemugaran di awal abad ke-20 ditemukan candi Buddha lainnya yaitu Candi Mendut dan Candi Pawon yang terbujur membentang dalam satu garis lurus.[15] Awalnya diduga hanya suatu kebetulan, akan tetapi berdasarkan dongeng penduduk setempat, dulu terdapat jalan berlapis batu yang dipagari pagar langkan di kedua sisinya yang menghubungkan ketiga candi ini. Tidak ditemukan bukti fisik adanya jalan raya beralas batu dan berpagar dan mungkin ini hanya dongeng belaka, akan tetapi para pakar menduga memang ada kesatuan perlambang dari ketiga candi ini. Ketiga candi ini (Borobudur-Pawon-Mendut) memiliki kemiripan langgam arsitektur dan ragam hiasnya dan memang berasal dari periode yang sama yang memperkuat dugaan adanya keterkaitan ritual antar ketiga candi ini. Keterkaitan suci pasti ada, akan tetapi bagaimanakah proses ritual keagamaan ziarah dilakukan, belum diketahui secara pasti.[10]
Selain candi Mendut dan Pawon, di sekitar Borobudur juga ditemukan beberapa peninggalan purbakala lainnya, diantaranya berbagai temuan tembikar seperti periuk dan kendi yang menunjukkan bahwa di sekitar Borobudur dulu terdapat beberapa wilayah hunian. Temuan-temuan purbakala di sekitar Borobudur kini disimpan di Museum Karmawibhangga Borobudur, yang terletak di sebelah utara candi bersebelahan dengan Museum Samudra Raksa. Tidak seberapa jauh di sebelah utara Candi Pawon ditemukan reruntuhan bekas candi Hindu yang disebut Candi Banon. Pada candi ini ditemukan beberapa arca dewa-dewa utama Hindu dalam keadaan cukup baik yaitu Shiwa, Wishnu, Brahma, serta Ganesha. Akan tetapi batu asli Candi Banon amat sedikit ditemukan sehingga tidak mungkin dilakukan rekonstruksi. Pada saat penemuannya arca-arca Banon diangkut ke Batavia (kini Jakarta) dan kini disimpan di Museum

Rabu, 05 September 2012

Alun-alun Kota Magelang

Alun-alun Kota dijadikan sebagai pusat Kota Magelang karena letaknya yang sangat strategis di tengah kota. Banyak sekali kendaraan angkutan kota dengan berbagai jalur melewatinya. Dari alun-alun ini orang dapat menjangkau Pecinan atau Jl. Pemuda. Kawasan Pecinan merupakan salah satu kawasan pusat perdagangan di KOta Magelang, yang sudah ada sejak zaman pemerintah Kolonial Belanda. Di sekelilingnya berdiri banyak sekali pusat perbelanjaan dan tempat umum lainnya. Di sebelah timurnya ada Matahari dan Gardena swalayan serta Magelang Theatre yang merupakan satu-satunya bioskop yang ada. Di sebelah utaranya berdiri dengan megah Trio Plaza dan Bank BCA. Selain kedua bangunan tersebut, di sisi utara juga terdapat gereja untuk pemeluk agama kristen. Sementara di sebelah selatan ada Kantor Polresta Magelang, Bank Jateng dan klenteng Magelang. Sementara di sebelah barat atau yang sering disebut alun-alun barat ada sebuah masjid yang terbesar di Magelang, tempat ini sering dinamakan Kauman. Sebelah utara Kauman, terdapat gereja katholik dan pastoran. Alun-alun Kota Magelang selain sebagai pusat kegiatan publik, juga dipandang sebagai simbol kerukunan beragama, yaitu dengan adanya beberapa sarana peribadatan untuk agama Islam, Ketholik, Kristen dan Konhuchu. Sementara di sudut sebelah barat laut ada menara air yang merupakan peninggalan Belanda. Menara air ini menjulang setinggi lebih kurang 15 m. Dan sekarang ini menara tersebut digunakan oleh PDAM Kota Magelang sebagai tempat penampungan air yang sanggup memenuhi kebutuhan akan air bagi warga Kota Magelang. Menara air minum, dengan desain kolonial yang unik, saat ini djadikan sebagai salah satu land mark Kota Magelang. Alun-alun ini sekarang dibuka untuk umum bagi warga Magelang. Biasanya digunakan untuk bersantai di sore hari, tempat penyelenggaraan konser band atau untuk upacara hari besar kenegaraan. Namun alun-alun ini sebelumnya tidak dibuka untuk umum dan hanya digunakan untuk upacara-upacara tertentu. Pada tahun 2002, Pemerintah Kota Magelang menyusun Master Plan Alun-Alun Kota Magelang, yang kemudian dijadikan sebagai dasar untuk kegiatan renovasi Alun-Alun. Konsep dasar master plan tersebut adalah untuk menjadikan Alun-Alun sebagai pusat kegiatan publik bagi warga kota.

TAMAN KYAI LANGGENG



Berlokasi sekitar 1 kilometer dari pusat kota Magelang, tepatnya ke arah selatan atau  sekitar 19 Kilometer dari Candi Borobudur. Taman Kyai Langgeng memiliki luas sekitar 28 hektar, Taman wisata ini memiliki ratusan koleksi tanaman langka yang bisa dimanfaatkan sebagai obyek penelitian. 
Kyai Langgeng adalah sebuah nama yang diambil dari nama salah seorang pejuang dibawah pimpinan Pangeran Diponegoro, Salah satu diantara Pahlawan Kemerdekaan Indonesia yang berjuang dengan gagah berani melawan penjajahan Belanda.


Dasar dijadikannya sebuah Taman dengan menggunakan nama Kyai Langgeng karena Beliau, dimakamkan di kawasan ini. Makam tersebut masih ada dan terawat hingga sekarang ini. Berkunjung ke Tempat Wisata lokal yang satu ini merupakan suatu keasyikan tersendiri. Selain taman yang ditata secara rapi, ternyata banyak sekali tawaran kenikmatan dengan keunikan-keunikan yang dimiliki dan fasilitas-fasilitas lain tersedia di dalamnya. Suatu pesona panorama alam yang sangat eksotis yang dapat mengisi "kekosongan jiwa" para penikmatnya.
Sebagai tempat wisata lokal andalan Kota Magelang, Selain memiliki koleksi hewan dan tanaman langka. Taman Kyai langgeng  juga merupakan perpaduan antara pariwisata dan pendidikan,terbukti dengan adanya perpustakaan yang bersih dan tertata rapi yang peresmiannya dibuka oleh menteri pendidikan bapak Prof. DR.Bambang Sudibyo. perpustakaan ini lebih akrab disebut “Desa Buku”. 

Desa Buku memiliki koleksi buku buku yang dapat dinikmati para pengunjung. Kehadiran Desa Buku diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan wisatawan sembari menikmati keindahan alam Taman Kyai Langgeng.


Taman Kyai Langgeng memiliki beberapa wahana permainan bagi para wisatawan yang menyukai tantangan dan petualangan. Dengan harga terjangkau, para pengunjung dapat menikmati permainan Flying Fox, Jetcoaster, arung jeram, kolam renang dan banyak lagi wahana permainan yang mengasyikan untuk keluarga. 
Bagi para wisatawan yang menginginkan wisata alam yang dengan nuansa berbeda, maka Taman kyai langgeng ini adalah pilihan yang pas bagi anda beserta keluarga, Karena di sini anda akan mendapatkan nilai lebih dari sekedar berwisata maupun refreshing saja.

KLENTENG LIONG HOK BIO



Jika anda berkunjung ke Magelang, luangkan waktu untuk datang ke sebuah klenteng di jalan Alun-Alun Selatan nomor 2 Magelang. Klenteng Liong Hok Bio.
Klenteng anggun ini sangat istimewa karena arsitekturnya unik dan masih utuh. Hanya beberapa bagian saja yang mengalami renovasi.
Bisa dibilang, Liong Hok Bio adalah klenteng kebanggaan masyarakat Magelang yang menyimpan banyak sejarah. Klenteng ini menjadi saksi perjuangan masyarakat Tionghoa yang ikut serta melawan penjajah Belanda dalam perang Jawa, yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.